Tampilkan postingan dengan label F.Budi Hardiman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label F.Budi Hardiman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 April 2016

Tafsir Kebudayaan Karya Clifford Geertz

Judul : Tafsir Kebudayaan
Penulis : Clifford Geertz
Penerjemah : F. Budi Hardiman
Pengantar : Budi Sumanto
Penerbit : Kanisius
Tebal : 282 halaman
Kondisi : Segel
Harga : 65.000

Bagaimana seorang ilmuwan sosial mendekati fenomena kebudayaan, seperti: evolusi pikiran, pandangan tentang pribadi, waktu dan tingkah laku, dan juga permainan sabung-ayam di Bali? Clifford Geertz, antropolog yang sudah termashur dalam masyarakat kita, memperkenalkan sebuah pendekatan khas untuk kebudayaan yang dia sebut thick description ( lukisan mendalam ). Lukisan mendalam adalah jaring-jaring makna, maka pendekatan kepadanya bersifat semiotis dan kontekstual. Sebuah tantangan untuk pendekatan positivistis.Sasaran: mahasiswa sosiologi, fisipol. Judul Asli: INTERPRETATION OF CULTURES, Selected Essays (Bab 1,2,3,7,13,14,15). Penerbit: Hutchinson , London Penerjemah: F. Budi Hardiman. 

Hak-Hak Asasi Manusia karya F. Budi Hardiman

Judul : Hak-Hak Asasi Manusia Polemik dengan Agama dan Kebudayaan
Penulis : F. Budi Hardiman
Penerbit : Kanisius
Tebal : 156 halaman
Kondisi : Segel
Harga : 40.000

Atas nama hak-hak asasi manusia, negara-negara Barat sering menekan negara-negara Asia dan bahkan menyerang negara-negara Islam, juga dengan alasan perang melawan terorisme. Seberapa universalkah hak-hak asasi manusia yang telah dideklarasikan pada 10 Desember 1948 oleh PBB itu? Bukankah hak-hak asasi manusia berasal dari konteks individualisme masyarakat liberal Barat, dan hal itu tidak sesuai dengan kebudayaan-kebudayaan lain? Bagaimana respons dunia Islam dan para elit politis di Asia terhadapnya? Buku ini mengulas lima tema polemik termasyhur yang mempersoalkan kesahihan universal hak-hak itu, yaitu polemik antara hak-hak asasi universal dan republikanisme, antara hak-hak asasi versi Barat dan versi Islam, antara hak-hak individual dalam liberalisme dan hak-hak kolektif dalam multikulturalisme, antara hak-hak asasi manusia dan nilai-nilai Asia dan antara hak-hak asasi manusia dan kewajiban-kewajiban asasi manusia. Penulis menyingkap kepentingan-kepentingan politis di balik retorika keunggulan agama dan kebudayaan sendiri dan mengkritik instrumentalisasi hak-hak asasi manusia dalam politik internasional. Ia membela pendirian bahwa hak-hak asasi manusia dimaklumkan untuk melindungi manusia dari pengalaman-pengalaman negatif dalam modernitas, yakni akibat kesewenangan kekuasaan, ekspansi pasar kapitalis, tekanan kelompok ataupun dominasi teknologi. Tuntutan itu tidak boleh direlatifkan, meski dengan dalih-dalih kekhasan agama ataupun kebudayaan sekalipun. Sebuah buku yang wajib dibaca oleh dosen, peneliti, mahasiswa, aktivis, politikus atau pembaca umum yang meminati filsafat politik, etika politik, ilmu hukum, hak-hak asasi manusia, hubungan internasional, dan studi interkultural.

Ruang Publik Karya F. Budi Hardiman

Judul : Ruang Publik Melacak "Partisipasi Demokratis" dari Polis sampai Cyberspace
Penulis : F. Budi Hardiman
Penerbit : Kanisius
Tebal : 408 halaman
Kondisi : Segel
Harga : 95.000

Seni Memahami Karya F. Budi Hardiman

Judul : Seni Memahami Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida
Penulis : F. Budi Hardiman
Penerbit : Kanisius
Tebal : 344 halaman
Kondisi : Segel
Harga : 75.000

Rabu, 14 Mei 2014

Filsafat Fragmentaris



Judul : Filsafat Fragmentaris
Penulis: F. Budi Hardiman
Penerbit : Kanisius
Kondisi : Baru
Harga buku: Rp 48.000
Pemesanan : sms 089666935968/ pin BB: 321BDDAB
Sinopsis
Ketika manusia mulai mengabsolutkan pemikiran dengan dalih kebenaran agamadan ideologi, maka saat itu jalan kebenaran mulai menyempit, bahkan bisa menutup.Buku ini memberikan peringatan sangat tajam kepada kita agar kita tidak terjatuh pada ranjau absolutisme yang potensial memunculkan kesombongan dan benturan diantara kita. Untuk konteks Indonesia buku ini sangat inspairing dan mencerahkan
Seperti dikatakan sebelumnya, buku Filsafat Fragmentaris adalah sebuah kumpulan tulisan pengarang yang pernah dipublikasikan di berbagai media (hal. 221-222). Budi Hardiman menulis berbagai tema, mulai dari tentang fenomenologi persepsi Maurice Merleau Ponty (hal. 35), pemikiran Hegel dan Kant tentang kesadaran (hal. 67), teori Estetika Walter Benjamin dan Adorno (hal.88), pemikiran Habermas tentang Demokrasi Deliberatif (hal 115), filsafat politik Carl Schmitt, filsafat politik Jacques Derrida, dan filsafat hukum.
Tentu saja, dengan gaya penulisan yang tajam, kuat, dan unik yang dimiliki Budi Hardiman, tema-tema penting di dalam filsafat tersebut digali, diolah, direfleksikan, dan dipaparkan dengan sangat baik dengan acuan pada teks-teks asli yang mungkin tidak perlu diragukan lagi kredibilitasnya. Penulis buku ini memang sangat ahli tentang tradisi filsafat Jerman, terbukti dari teks-teks asli filsuf tersebut yang digunakan sebagai acuan.
Pertanyaan yang ingin saya ajukan adalah, apakah dari kumpulan tulisan filsafat semacam itu, kita bisa merumuskan suatu argumen bahwa filsafat itu pada hakekatnya bersifat fragmentaris, seperti yang dilakukan oleh Budi Hardiman, pengarang buku ini? Memang, jika dipikirkan dalam-dalam, hakekat filsafat adalah fragmentaris, dan tepat itulah yang membedakan filsafat dari ideologi dan agama yang memiliki klaim absolut atas pernyataan-pernyataannya. Itulah argumen yang juga ditawarkan oleh Budi Hardiman.
Akan tetapi, argumen terakhir ini tidak akan pernah bisa didapatkan dari sebuah kumpulan tulisan filsafat yang kemudian didaur ulang menjadi sebuah buku. Pada hemat saya, tesis bahwa filsafat pada hakekatnya bersifat fragmentaris haruslah dijabarkan lebih jauh dengan mengolahnya dari bab per bab dengan mendetil, barulah kesimpulan atau argumen utama buku ini memperoleh keabsahannya, dan bukan dengan kumpulan tulisan-tulisan filsafat yang sudah pernah dipublikasikan sebelumnya.
Alasan inilah yang mendorong saya untuk berargumen, bahwa judul yang tepat untuk buku ini bukanlah Filsafat Fragmentaris, seperti yang diberikan oleh pengarang, melainkan Fragmen-fragmen Filsafat, yakni potongan-potongan refleksi filsafat yang menjangkau berbagai tema dan kemudian disatukan dalam satu buku. Rupanya, ketika berdiskusi di Teater Utan Kayu April 2007 lalu, Rm Sudarminta, kolega pengarang buku ini di STF Driyarkara, memiliki argumen yang serupa dengan saya, sehingga beliau menanyakan itu, ketika diskusi sedang berjalan.
Mengapa lebih tepat disebut sebagai fragmen-fragmen filsafat? Yah, fragmen itu sendiri adalah suatu potongan, suatu pecahan, dan tulisan di dalam buku ini sebenarnya merupakan potongan-potongan penting di dalam sejarah filsafat yang memang layak untuk disimak dan direfleksikan lebih jauh.
Akan tetapi, tesis bahwa filsafat itu pada hakekatnya bersifat fragmentaris adalah tesis yang, pada hemat saya, terburu-buru untuk dirumuskan, dan terkesan agak dipaksakan untuk buku ini. Jika dibahasakan secara ketat, dari potongan-potongan refleksi di dalam bidang filsafat, kita tidak akan pernah bisa mengambil kesimpulan yang bersifat ontologis, atau mendasar, tentang hakekat filsafat itu sendiri.