Judul : Zaman Peralihan
Penulis: Soe Hok Gie
Penerbit : Gagas Media, 2005
Tebal: 315 halaman
Kondisi : Baru (POD)
Harga buku: Rp 85.000,00
Pemesanan
: sms 0896 6693 5968/ pin BB: 321BDDAB
Sinopsis
Dengan usianya yang relatif pendek, 27 tahun (17 Desember 1942 - 16
Desember 1969), Soe Hok Gie tercatat dalam sejarah gerakan kaum
terpelajar Indonesia sebagai seorang tokoh yang fenomenal. Terutama pada
masa 6-7 tahun menjelang akhir hayat- nya. Karakter dan kepribadiannya
mengingatkan kita kepada Chairil Anwar, penyair pelopor Angkatan '45,
yang meninggal juga dalam usia 27 tahun.
Bila Chairil Anwar mewariskan sejumlah karya puisi penting untuk
dinikmati dan ditelaah, maka Soe Hok Gie mewariskan sejumlah catatan,
artikel, dan makalah untuk diskusi yang tak kalah pentingnya untuk
dikenal dan dipelajari sebagai kesaksian sejarah dari satu pribadi yang
terlibat langsung dengan in- tensitas total dalam pergolakan zamannya.
Membaca Zaman Peralihan (ZP) - 36 judul naskah - tentang berbagai aspek
kehidupan dalam lingkup yang cukup luas, kentara sekali bahwa situasi
dan kondisi masa itu merupakan faktor yang dominan. Pertama, dalam
menghadirkan tema dan wilayah pergumulan Soe Hok Gie. Kedua, dalam
memberi bentuk kepada ek- spresi intelektualnya. Ia begitu aktif dalam
dunia pemikiran sekaligus dengan realitas yang dengan tekun dicatatnya
dari hari ke hari. Tema kebangsaan, kemahasiswaan, kemanusiaan, dan tema
lainnya dalam bagian IV (Catatan Turis Terpelajar) mencuat dari situasi
nasional dan internasional masa itu yang ditangkap dan direspons oleh
Soe Hok Gie dengan tangkas dan lugas meski terkadang cenderung
hitam-putih.
Visi dan sikapnya jelas, menarik untuk diuji kembali hingga hari ini.
Misalnya, tentang mahasiswa, teman-temannya sendiri. Setelah Soekarno
menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto, mahasiswa In- donesia tiba-tiba
mempunyai pengaruh yang amat besar. "Belum pernah dalam sejarah
Indonesia, mahasiswa-mahasiswa mempunyai pengaruh politik yang demikian
besar. Tokoh-tokoh mahasiswa menjadi tokoh nasional" (halaman 27).
Tetapi bersamaan dengan itu, Soe Hok Gie melihat bahwa mahasiswa pun
terpecah dua. Pertama, mereka yang mengatas- namakan mahasiswa, dan
kedua, mereka yang aktif atas nama in- dividu. Yang pertama menggalang
political force dan yang kedua menjadi moral force. Bagi kelompok kedua,
"mahasiswa-mahasiswa yang menjadi anggota parlemen dari grup-grup
mahasiswa adalah pemimpin-pemimpin yang mencatut perjuangan" (halaman
28). Kepada mereka, Soe Hok Gie pernah membikin parodi dengan
mengirimkan alat rias sebagai ungkapan kekecewaannya. Ini dilakukannya
di hari-hari menjelang wafat, sebelum ia berangkat ke tempat maut
menunggunya di Gunung Semeru. Ia begitu kecewa terhadap tokoh Angkatan
'66 yang lebih memburu jabatan politik ketimbang memikirkan
perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan setelah masa peralihan.
Bersama teman-teman sepaham, ia menganggap dirinya sebagai orang-orang
yang "terdidik untuk berontak terhadap kemunafikan". Hal itu
dimungkinkan dalam zaman peralihan demikian, ketika kesempatan dan
kebutuhan serba terbuka. Lain dengan dekade berikutnya hingga dewasa
ini, suasana untuk berontak seperti itu sudah lewat. Kini, selain
bersikap kritis demi perbaikan, menjaga kelangsungan pembangunan
sekaligus memelihara dan mengembangkan hasil-hasil pembangunan merupakan
keharusan yang utama.
Meski ia selalu sibuk seperti terlihat dari tulisan- tulisannya, tak
jarang ia menemukan dirinya dalam keadaan gundah gulana,
terombang-ambing dalam kebingungan dan kesunyian. Suasana muram demikian
pernah dialami dan diungkap- kan Chairil Anwar dalam puisinya "Catetan
Tahun 1946" (kutipan bait pertama):
Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai
Mainan cahaya di air hilang bentuk dalam kabut
Dan suara yang kucintai kan berhenti membelai
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut
Perjalanannya sebagai "turis terpelajar" ke Amerika Serikat, sekitar 70
hari akhir tahun 1968, cukup mengejutkan jiwanya. Lain dari yang pernah
dibayangkannya, ternyata "generasi yang kecewa" adalah juga produk
negara "ultramodern" dan problem sosialnya juga serba rumit. Dari
perkenalannya dengan masyarakat kampus, ia menyaksikan bagaimana mereka
mempertanyakan kebijaksanaan pemerintahnya tentang perang: "Apakah hak
kita untuk menjadi polisi dunia, memaksakan kehendak kita kepada bangsa
lain? Apakah dukungan kita kepada Vietnam Selatan tidak bertentangan
dengan tradisi demokrasi kita sendiri?" (halaman 244). Kemudian ia pun
menyadari pula, "... bahwa dunia ini tidak hitam putih, tetapi kelabu.
...tidak terbagi dalam blok komunis dan anti-komunis, tapi antara bagian
yang kaya dan bagian yang miskin" (halaman 242). Suatu ketika ia sempat
mencatat, seperti sedang bersyukur: "... dari New York, saya menyadari
banyak hal yang baik tentang Indonesia."
Buku ini memperlihatkan kerangka yang lebih jelas tentang alam pemikiran
dan pengalaman Soe Hok Gie berkat kerja editor yang menyusun
pengelompokan naskah-naskah dengan saksama. Kata pengantar Dr.
Kuntowijoyo sangat membantu dalam menghadirkan profil Soe Hok Gie dengan
sosok yang lebih jelas dalam sejarah intelektual Indonesia sepanjang
tahun 1960-an yang penuh pergolakan, dalam zaman peralihan.
Zaman Peralihan adalah kumpulan
tulisan Soe Hok Gie tentang kondisi Indonesia di erah peralihan kekuasaan
Soekarno ke Soeharto. Rangkaian sejarah yang menunjukkan pada kita bahwa zaman
boleh beralih, namun akar dari semua tak boleh tercerabut, yaitu kemanusiaan
kita sebagai sebuah bangsa. Ini akan menjadi penuntun jalan kita untuk pulang
dan mengeja kembali kebangsaan kita diantara carut marut dan gegap gempita
zaman.