Menjual buku berat, hanya untuk intelektual, aktivis pergerakan dan pejuang humanis.
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Senin, 25 April 2016
Senin, 18 April 2016
Kejahatan dan Hukuman Karya Fyodor Dostoyevsky
Kejahatan dan Hukuman
Penulis : Fyodor Dostoyevsky
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tebal : 480 halaman
Kondisi : Segel
Harga : 100.000
Kejahatan dan Hukuman adalah novel yang menelusuri pergumulan paling sengit di relung jiwa terdalam seorang anak manusia.... Kesepian hati...Kepahitan hidup....Keangkuhan...Keme laratan....dan
Cinta. Novel ini menceritakan tentang pergulatan batin seorang
mahasiswa yang kesepian dan penyendiri itu - bernama Raskolnikov - yang
coba menghibur diri dengan ilusi-ilusi kekuasaan dan yakin banget pada
saat itu bahwa ia boleh melakukan pembunuhan tanpa harus menanggung rasa
bersalah dan sanksi hukum, dan bagaimana seorang inspektur polisi,
Porfiry, membantunya untuk memainkan peran sebagai informan atas dirinya
sendiri, sehingga setelah pergulatan batin yang meletihkan, ia
menyerahkan diri kepada pihak berwajib dan dikirim ke Siberia. Dan
bagaimana Raskolnikov sampai pada kesadaran dan penerimaan dirinya bahwa
ia memang bersalah, ia menemukan kembali jati dirinya lewat cinta
seoran pelacur muda bernama sonia.
Penulis : Fyodor Dostoyevsky
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tebal : 480 halaman
Kondisi : Segel
Harga : 100.000
Kejahatan dan Hukuman adalah novel yang menelusuri pergumulan paling sengit di relung jiwa terdalam seorang anak manusia.... Kesepian hati...Kepahitan hidup....Keangkuhan...Keme
Si Lugu Karya Voltaire
Si Lugu
Penulis : Voltaire
Pengantar : Ida Sundari Husen
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tebal : 129 halaman
Harga : 25.000
Si Lugu (L'Ingenu) merupakan nama seorang tokoh yang sesuai dengan namanya, mempunyai cara berpikir yang bersahaja, seorang yang berpikir secara primitif. Ia seorang yang tidak mengenal prasangka, pengertiannya tetap lurus dalam kemurniannya. Perpisahannnya dengan kekasihnya, nona de Saint-Yves, menyebabkan ia masuk penjara, yang bertemu dengan Gordon, seorang pengikut jansenisme, yang banyak memberi pelajaran yang berarti bagi si Lugu. Komentar-komentar yang diucapkan si Lugu amat sederhana, polos dan terus terang, tetapi memiliki daya kriitik yang tajam dan mengena.
Seperti kebanyakan dogeng-dogeng Voltaire yang lainnya, makna yang diungkapkan, yaitu filsafat hidup, sindiran, dibutuhkan pengetahuan sosial budaya yang cukup, pengalaman hidup dan kematangan berpikir. Tanpa penahaman ironi yang dikandungnyam karya-karya Voltaire tak lebih dari dongeng populer biasa.
Penulis : Voltaire
Pengantar : Ida Sundari Husen
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tebal : 129 halaman
Harga : 25.000
Si Lugu (L'Ingenu) merupakan nama seorang tokoh yang sesuai dengan namanya, mempunyai cara berpikir yang bersahaja, seorang yang berpikir secara primitif. Ia seorang yang tidak mengenal prasangka, pengertiannya tetap lurus dalam kemurniannya. Perpisahannnya dengan kekasihnya, nona de Saint-Yves, menyebabkan ia masuk penjara, yang bertemu dengan Gordon, seorang pengikut jansenisme, yang banyak memberi pelajaran yang berarti bagi si Lugu. Komentar-komentar yang diucapkan si Lugu amat sederhana, polos dan terus terang, tetapi memiliki daya kriitik yang tajam dan mengena.
Seperti kebanyakan dogeng-dogeng Voltaire yang lainnya, makna yang diungkapkan, yaitu filsafat hidup, sindiran, dibutuhkan pengetahuan sosial budaya yang cukup, pengalaman hidup dan kematangan berpikir. Tanpa penahaman ironi yang dikandungnyam karya-karya Voltaire tak lebih dari dongeng populer biasa.
Sampar Karya Albert Camus
Sampar
Penulis : Albert Camus
Alih Bahasa : NH. Dini
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tebal : 396 halaman
Kondisi : bagus
Harga : 82.000
Karya Albert Camus adalah karya sastradi dan filsafat sekaligus. Hidup ini Absurd, tidak untuk dijelaskan, tetapi untuk dipahami. Dalam La Peste, absurditas menyoal arti Solidaritas saat wabah mengurung kita. Nh. Dini mengerti itu. Ia paham kebudayaan Prancis, terampil menulis, dan cermat menerjemahkan. Hasilnya Sampar versi kedua yang makin enak dibaca, tetapi tetap menhadirkan Camus. Sangat bermanfaat bagi mereka yang menekuni sastra dan filsafat.
Penulis : Albert Camus
Alih Bahasa : NH. Dini
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tebal : 396 halaman
Kondisi : bagus
Harga : 82.000
Karya Albert Camus adalah karya sastradi dan filsafat sekaligus. Hidup ini Absurd, tidak untuk dijelaskan, tetapi untuk dipahami. Dalam La Peste, absurditas menyoal arti Solidaritas saat wabah mengurung kita. Nh. Dini mengerti itu. Ia paham kebudayaan Prancis, terampil menulis, dan cermat menerjemahkan. Hasilnya Sampar versi kedua yang makin enak dibaca, tetapi tetap menhadirkan Camus. Sangat bermanfaat bagi mereka yang menekuni sastra dan filsafat.
Orang Asing Karya Albert Camus
Orang Asing
Penulis : Albert Camus
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tebal : 134 halaman
Kondisi ; Segel
Harga : 35.000
Novel ini pertama-tama terkenal sebagai perwujudan dari pemikiran Albert Camus tentang filsafat absurd yang telah ditulisnya sebelum itu, dalam bentuk kumpulan esai berjudul Le Mythe de Sysiphe. Absurd adalah suatu pandangan hidup yang khas, bisa dikatakan tropis, yang hanya mungkin digagas oleh orang eropa, atau orang Barat pada umumnya, yang pernah tinggal di Negara trpis. (Pembaca Indonesia akan segera mengenali kecenderungan manusia tropis dalam novel ini, yang eksotik bagi pembaca Barat) Sebagaimana diketahui Alberd Camus memang lahir di Mondovi pada tahun 1913 dan dibesarkan di Aljazair. Dari novel ini lahir ungkapan bahwa “la vie ne vaut pas la peine d’etre vecue”, hidup tak layak dijalani, tentu dalam kaitan dengan absurditas kematian di mata Barat. Kebesaran manusia absurd terletak pada kesadarannya yang jernih atas kondisi hidupnya.” (prof. Apsanti Djokosujatno, Guru Besar FIB UI)
Kamis, 14 Januari 2016
Senin, 16 Februari 2015
Selasa, 03 Juni 2014
Arus Balik
Judul: Arus Balik
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Hasta Mitra, 2002
Tebal: 778 halaman
Kondisi: Baru (POD)
Harga: Rp. 120.000
SinopsisPenulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Hasta Mitra, 2002
Tebal: 778 halaman
Kondisi: Baru (POD)
Harga: Rp. 120.000
ARUS BALIK, adalah sebuah epos pasca kejayaan Nusantara sebagai kekuatan dan kesatuan maritim pada awal abad 16.
Seperti yang dituliskan oleh Joesoef Isak (editor) dalam catatan Penerbit tahun 1995 yang diperbarui, Arus Balik adalah suatu epos pasca kejayaan Majapahit pada saat arus zaman membalik, pada saat segalanya berubah – kekuasaan di laut menjadi kekuatan darat yang mengkerut di pedalaman, kemuliaan menukik ke dalam kemerosotan, kejayaan berubah ke kekalahan, kecemerlangan cendekia menjadi kedunguan dalam penalaran, kesatuan dan persatuan berubah menjadi perpecahan yang memandulkan segala kegiatan.
Semasa jaya Gajah Mada di Majapahit, Nusantara merupakan kesatuan maritim dan kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi. Arus bergerak dari Selatan ke Utara, segalanya : kapal-kapalnya, manusianya, amal perbuatannya, cita-cita dan citranya, semua bergerak dari Nusantara di Selatan ke “Atas Angin” di Utara.
Kekuatan dan kesatuan maritim Nusantara pernah mengimbak-imbak megah berpendaran damai ke Utara.
Tapi zaman berubah ……
Arus berbalik, bukan lagi dari Selatan ke Utara tetapi sebaliknya dari Utara ke Selatan. Utara kuasai Selatan, menguasai urat nadi kehidupan Nusantara. Perpecahan dan kekalahan demi kekalahan seakan menjadi bagian dari Jawa yang beruntun tiada hentinya sampai saat ini.
Arus raksasa menggelombang dari Utara menghempas Nusantara mundur ke Selatan – yang tertinggal hanya negara/kota kecil-kecil di pesisir Utara Jawa, bahkan lebih jauh lagi mundur sampai ke pedalaman, ke desa-desa di kaki-kaki pegunungan. Mundur, mundur terus sampai ke pedalaman bukan hanya secara geografis, tetapi lebih-lebih lagi mundur ke pedalaman diri sendiri, ke pedalaman nurani dan kenalurian yang mengganti nalar rasional. Merasuk dalam ke pedalaman diri yang paling aman, pedalaman yang tak akan mampu disentuh oleh siapapun, pedalaman dimana bisa dibangun kekuasaan paling perkasa dan bisa berbuat segala-galanya. Akhirnya Arus Balik bukan hanya lagi kisah tentang para Sultan dan Adipati Nusantara dan Jawa, tapi juga kisah tentang manusia Nusantara, manusia Jawa, kultur Jawa, kisah tentang “Javanese mind” dengan berbagai perwatakannya. Kebesarannya, kearifannya, kemunafikannya, dan eufemismenya.
Kejayaan Majapahit pernah hampir diulang oleh Adipati Unus dari Jepara, putera Sultan Demak Raden Patah, dengan menyerang Portugis di Malaka. Walaupun kalah dan terluka, Jepara sudah pernah mendatangi Portugis di Malaka. Kapal-kapal Jepara sudah pernah pernah menyerang Portugis, dan akan mendatangi lagi kelak. Berbeda dengan Adipati Tuban Arya Tumenggung Wilwatikta, keturunan Ranggalawe, teman seperjuangan Raden Wijaya. Tuban pernah menjadi andal-andalnya Majapahit dengan armada kapal perang yang besar serta kekuatan angkatan darat dengan pasukan gajah yang tak terkalahkan. Adipati Tuban Wilwatikta tidak suka memerangi Portugis, melainkan lebih mengutamakan perdagangan semata. Demikian juga dengan Sultan Trenggono, adik Adipati Unus yang menggantikannya menjadi Raja di Demak, lebih suka memerangi tetangganya sendiri untuk menguasai Jawa seluruhnya daripada bersatu guna memerangi Portugis.
Wiranggaleng, pemuda desa sederhana, menjadi tokoh protagonist dalam epos kepahlawanan yang maha dahsyat ini. Dia bertarung sampai ke pusat kekuatan Portugis di Malaka, memberi segala-galanya, walau hanya secauk pasir sekalipun, untuk membendung arus Utara, “Sekarang orang tak mampu lagi membuat kapal besar. Kapal besar dibuat hanya oleh kerajaan besar, kapal kecil oleh kerajaan kecil, menyebabkan arus tidak bergerak lagi dari Selatan ke Utara. Atas angin sekarang unggul, membawa segalanya ke Jawa, termasuk kehancuran, penindasan dan penipuan. Makin lama kapal-kapal kita makin kecil untuk kemudian tidak mempunyai lagi”.
Kejayaan persatuan dan kesatuan Indonesia dilahirkan oleh gelora kebaharian, sebaliknya kawasan-kawasan pedalaman agraris mengungkung wawasan berpikir, cenderung membentuk watak kerdil dan kemunafikan akibat tiadanya sentuhan gemuruh gelombang lautan. Maka benar sekali ucapan Pramoedya, Indonesia tak habis-habisnya dirundung masalah integrasi dan tersendat perkembangannya, disebabkan sebagai kekuatan bahari Indonesia sejak merdeka justru selalu diatur oleh kekuasaan di darat dengan watak khasnya yang bukan saja tak kenal, malah meminggirkan masalah kebaharian.
Seperti yang dituliskan oleh Joesoef Isak (editor) dalam catatan Penerbit tahun 1995 yang diperbarui, Arus Balik adalah suatu epos pasca kejayaan Majapahit pada saat arus zaman membalik, pada saat segalanya berubah – kekuasaan di laut menjadi kekuatan darat yang mengkerut di pedalaman, kemuliaan menukik ke dalam kemerosotan, kejayaan berubah ke kekalahan, kecemerlangan cendekia menjadi kedunguan dalam penalaran, kesatuan dan persatuan berubah menjadi perpecahan yang memandulkan segala kegiatan.
Semasa jaya Gajah Mada di Majapahit, Nusantara merupakan kesatuan maritim dan kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi. Arus bergerak dari Selatan ke Utara, segalanya : kapal-kapalnya, manusianya, amal perbuatannya, cita-cita dan citranya, semua bergerak dari Nusantara di Selatan ke “Atas Angin” di Utara.
Kekuatan dan kesatuan maritim Nusantara pernah mengimbak-imbak megah berpendaran damai ke Utara.
Tapi zaman berubah ……
Arus berbalik, bukan lagi dari Selatan ke Utara tetapi sebaliknya dari Utara ke Selatan. Utara kuasai Selatan, menguasai urat nadi kehidupan Nusantara. Perpecahan dan kekalahan demi kekalahan seakan menjadi bagian dari Jawa yang beruntun tiada hentinya sampai saat ini.
Arus raksasa menggelombang dari Utara menghempas Nusantara mundur ke Selatan – yang tertinggal hanya negara/kota kecil-kecil di pesisir Utara Jawa, bahkan lebih jauh lagi mundur sampai ke pedalaman, ke desa-desa di kaki-kaki pegunungan. Mundur, mundur terus sampai ke pedalaman bukan hanya secara geografis, tetapi lebih-lebih lagi mundur ke pedalaman diri sendiri, ke pedalaman nurani dan kenalurian yang mengganti nalar rasional. Merasuk dalam ke pedalaman diri yang paling aman, pedalaman yang tak akan mampu disentuh oleh siapapun, pedalaman dimana bisa dibangun kekuasaan paling perkasa dan bisa berbuat segala-galanya. Akhirnya Arus Balik bukan hanya lagi kisah tentang para Sultan dan Adipati Nusantara dan Jawa, tapi juga kisah tentang manusia Nusantara, manusia Jawa, kultur Jawa, kisah tentang “Javanese mind” dengan berbagai perwatakannya. Kebesarannya, kearifannya, kemunafikannya, dan eufemismenya.
Kejayaan Majapahit pernah hampir diulang oleh Adipati Unus dari Jepara, putera Sultan Demak Raden Patah, dengan menyerang Portugis di Malaka. Walaupun kalah dan terluka, Jepara sudah pernah mendatangi Portugis di Malaka. Kapal-kapal Jepara sudah pernah pernah menyerang Portugis, dan akan mendatangi lagi kelak. Berbeda dengan Adipati Tuban Arya Tumenggung Wilwatikta, keturunan Ranggalawe, teman seperjuangan Raden Wijaya. Tuban pernah menjadi andal-andalnya Majapahit dengan armada kapal perang yang besar serta kekuatan angkatan darat dengan pasukan gajah yang tak terkalahkan. Adipati Tuban Wilwatikta tidak suka memerangi Portugis, melainkan lebih mengutamakan perdagangan semata. Demikian juga dengan Sultan Trenggono, adik Adipati Unus yang menggantikannya menjadi Raja di Demak, lebih suka memerangi tetangganya sendiri untuk menguasai Jawa seluruhnya daripada bersatu guna memerangi Portugis.
Wiranggaleng, pemuda desa sederhana, menjadi tokoh protagonist dalam epos kepahlawanan yang maha dahsyat ini. Dia bertarung sampai ke pusat kekuatan Portugis di Malaka, memberi segala-galanya, walau hanya secauk pasir sekalipun, untuk membendung arus Utara, “Sekarang orang tak mampu lagi membuat kapal besar. Kapal besar dibuat hanya oleh kerajaan besar, kapal kecil oleh kerajaan kecil, menyebabkan arus tidak bergerak lagi dari Selatan ke Utara. Atas angin sekarang unggul, membawa segalanya ke Jawa, termasuk kehancuran, penindasan dan penipuan. Makin lama kapal-kapal kita makin kecil untuk kemudian tidak mempunyai lagi”.
Kejayaan persatuan dan kesatuan Indonesia dilahirkan oleh gelora kebaharian, sebaliknya kawasan-kawasan pedalaman agraris mengungkung wawasan berpikir, cenderung membentuk watak kerdil dan kemunafikan akibat tiadanya sentuhan gemuruh gelombang lautan. Maka benar sekali ucapan Pramoedya, Indonesia tak habis-habisnya dirundung masalah integrasi dan tersendat perkembangannya, disebabkan sebagai kekuatan bahari Indonesia sejak merdeka justru selalu diatur oleh kekuasaan di darat dengan watak khasnya yang bukan saja tak kenal, malah meminggirkan masalah kebaharian.
Senin, 02 Juni 2014
Keluarga Gerilja
Judul : Keluarga Gerilja
Penulis: Pramoedya Ananta
Toer
Penerbit : Pembangunan
Jakarta
Kondisi : Baru
Tebal: 282 halaman
Harga buku: Rp 75.000,00
Sinopsis
Buku ini adalah salah satu karya
Pramoedya Ananta Toer yang ditulis didalam penjara yaitu di penjara Bukit Duri
pada tahun 1949. Di cetak dengan mempertahankan ejaan jaman dahulu untuk
mempertahankan keaslian dari karya tersebut membuat sensasi rasa yang lain.
Langganan:
Postingan (Atom)










