Judul : Peta Pemikiran Marx
Penulis:Andi Muawiyah Ramly
Penerbit : LKiS
Harga buku: Rp 65.000
Pemesanan
: sms 089666935968/ pin BB: 321BDDAB
Sinopsis
Materialisme Dialektis
Materialisme dialektis bertitik
tolak dari materi yang satu-satunya kenyataan. Karl marx mengartikan dialektika
materialisme sebagai keseluruhan proses perubahan yang terjadi terus menerus
tanpa ada yang mengantarai. Dari proses itu kemudian timbul kesadaran melalui
proses pertentangan, dan hal ini ada pertentangan antara segi-segi yang
berlawanan dan gagasan bahwa segala sesuatu barkembang terus.
Dialektika materialisme pada perkembangannya merupakan jawaban persoalan
filsafat dizamannya. Rumusan Hegel tentang kenyataan misalnya merumuskan bahwa
apa yang nyata dapat dipikirkan dan apa yang dapat dipikirkan adalah nyata.
Tetapi, Feurbach yang mendasari filsafat materialisme marx tidak setuju dengan
rumusan dialektik Hegel, karena kalau dikatakan pikiran merupakan tesis
sedangkan penampakan kenyataan (antitesis) pada akhirnya juga berada dalam
pikiran, hal demikian tidak menjawab esensi persoalan. Sebab itu, Feurbach
mengembalikan kenyataan pada materi.
Akan tetapi menurut Marx, Hegel tidak dapat membebaskan dari alienasi dengan
gambaran bahwa kenyataan materil merupakan cermin dari pikiran seperti juga
Feurbach tidak bebas dari alienasi dengan gambaran bahwa kenyataan materil
merupakan cermin kenyataan, namun materialisme tak praktis bertolak dari posisi
ini, Marx menyebutkan dalam tesisnya ke-x bahwa “pendirian materialisme lama
adalah masyarakat sipil atau masyarakat borjuis sedang materialisme baru
seperti yang diusulkan Marx adalah masyarakat yang disosialkan”. Tetapi dalam
tesis ke-xi menyatakan bahwa “ia tidak mau berspekulasi secara teoritis seperti
yang ia lontarkan pada filosof-filosof sebelumnya, marx juga tidak menghendaki
sejumlah teori baru yang tidak bertali marga dengan kondisi zamannya”. Arah
filsafat macam ini adalah praksis social revolusioner sebuah arus loncatan dari
dialektika ideal (Hegel) dengan materialisme verbalis (Feurbach) menuju
dialektika materialis.
Manusia dan Alam
Karakteristik pembicaraan Marx
tentang manusia didapatkan dalam rumusan bahwa manusia adalah mahluk yang
konkrit. Manusia tidak akan pernah mampu untuk menyatakan kehadirannya diluar
alam, bahkan manusia bukanlah roh yang terjun kedalam dunia materi seperti yang
terdapat dalam dialektika Hegel. Manusia merupakan bagian integral dari alam
dan materi, dengan kata lain manusia tergantung dari alam sekaligus mempunyai
sikap aktif terhadap alam. Dari alamlah manusia memenuhi kebutuhan-kebutuhan
hidupnya melalui praksis kerja, karenanya corak manusia dalam wawasan ini
diacukkan kearah humanisme proletar yaitu kemanusiaan rakyat murba. Karena pada
hakikatnya yang membuat manusia menjadi homo humanus adalah kerja.
Bagi Marx, alam hendaknya dipandang sebagai suatu proses yang dinamis, rumusan
ini berangkat dari penolakannya terhadap materialisme lama yang menjadikan
mesin sebagai ukuran untuk menerangkan alam, manusia dan binatang. Marx
mengakui keberhasilan materialisme mekanistis Feurbach, akan tetapi Feurbach
tidak cukup tuntas mendalaminya sehingga menggantikan manusia konkrit dengan
suatu wujud khayalan dan abstrak, yaitu manusia sebagai suatu mahluk generic..
Berdasarkan alasan itu, Marx melihat manusia dan alam dari sudut pandang
materialisme dialektis, bahwa seluruh kenyataan berkembang secara kualitatif
dalam loncatan-loncatan yang menuju kepada perspektif realitas baru.
Materialisme Historis
Dalam materialisme Historis
diungkapkan bahwa manusia hanya dapat dipahami selama ia ditempatkan dalam
konteks sejarah. Manusia pada hakikatnya adalah insan bersejarah. Dan
penafsiran sejarah sebelum Marx beragam macamnya baik itu secara fatalistic,
social, politis, ide dan gagasan. Hal itu terjadi tidak lain karena ada
penafsiran yang berbeda terhadap realitas sejarah yang terjadi.
Berbeda dengan Marx, dengan materialisme historisnya bertumpu pada dalil bahwa
produksi dan distribusi barang serta jasa merupakan dasar unutk membantu manusa
untuk mengembangkan eksistensinya. Dengan kata lain, penafsiran sejarah dari
aspek ekonomi menempatkan pertukaran barang dan jasa sebagai syarat untuk
menata segenap lembaga social yang ada. Karena itu Marx membagi tahap
perkembangan sejarah kemanusiaan menjadi lima yaitu: pertama masyarakat komunal
primitive, kedua masyarakat perbudakan, ketiga mayarakat feodal, keempat
mayarakat kapitalis, kelima masyarakat sosialis. Dari lima tahap tersebut ada
dua faktor kunci yang mendasari proses didalamnya. Pertama kekuatan-kekuatan
produksi, kedua hubungan-hubungan produksi.
Pertentangan kelas dan Nilai
Lebih
Menurut Marx riwayat dari dari
setiap masyarakat adalah sejarah pertentangan kelas. Pertentangan kelas yang
berlangsung sejak dahulu hingga kini mengarah pada pertentangan kaya (borjuis)
dan pertentangan buruh (proletar). Konsep kelas dan pertentangan kelas ini
muncul karena perkembangan pembagian kerja secara social, yaitu munculnya hak
milik pribadi atas alat-alat produksi.
Kemudian Marx merumuskan formulasi teoritisnya dalam tiga hukum gerakan
ekonomi: pertama hukum akumulasi modal kedua hukum konsentrasi modal ketiga
hukum bertambahnya kemelaratan. Ternyata dari tafsiran tersebut diperoleh
solusi bahwa masyarakat dalam kritiknya senantiasa mengedepankan faktor manusia
dan hubungan manusia yang terlibat di dalam mekanisme produksi, karenanya dalam
analisis ekonominya, ketika membahas soal produksi, upah kerja, nilai barang
dan pasar sebenarnya yang menjadi inti perhatian Marx adalah hubungan
kemanusiaan yang mendasari dan menjalin proses itu.
Revolusi Dalam Perspektif Sosialisme
Revolusi yang dilukiskan oleh
Karl Marx dapat dijabarkan dalam dua tahap. Pertama, revolusi-revolusi yang
yang dipelopori golongan feodal kedua revolusi yang dilakukan oleh kelas
pekerja dalam upaya meruntuhkan kelas borjuis.
Dalam buku ini telah dijelaskan beberapa teori yang melatar belakangi lahirnya
pola pemikiran materialisme dialektis dan materialisme historis dari Karl Marx
yang dapat dijadikan acuan dasar bagi para pemula dalam memahami filsafat
materialisme, serta pengantar untuk memahami pemikiran Karl Marx yang lebih
luas agar kita dalam memahami pola pemikirannya tidak parsial karena Marx
sendiri pernah berkata "aku Bukanlah Seorang Marxis".
Tetapi buku ini hanya terbatas sebagai suatu pengantar ke pemikiran Karl Marx.
Dan sebagai pengantar tak dikemukakan didalamnya pengembangan lebih lanjut
pemikiran Karl Marx oleh banyak kalangan teoritisi sosial mutakhir, yang
kemudian dikenal sebagai kalangan revisionis. Demikian pula dengan teori
sosialnya yang merasuk ke dalam pemikiran sosial-keagamaan, seperti teologi
pembebasan.