Tampilkan postingan dengan label Intelejen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Intelejen. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2016

Rabu, 19 Agustus 2015

Memata-matai Kaum Pergerakan by Allan Akbar

Judul :Memata-matai Kaum Pergerakan: Dinas Intelijen Politik Hindia Belanda 1916-1934
Penulis : Allan Akbar
Pengantar: Harry A. Poeze
Penerbit : Marjin Kiri
Tebal : 117 halaman + xx
Kondisi : Segel
Harga : 45.000

Minggu, 10 Mei 2015

Epistemologi Kiri Karya Listiyono dkk

Judul : Epistemologi Kiri
Penulis: Listiyono Santoso dkk
Penerbit : Ar-Ruzz Media
Tebal : 360 halaman
Kondisi : Segel
Harga : 80.000
Pemesanan : sms 089666935968/ pin BB: 321BDDAB
Sinopsis
Mencari kebenaran adalah esensi filsafat. Sedangkan kebebasan menjadi ruh untuk berfilsafat. Karena itu, banyak fulsuf yang hanya melayang-layang saja, meneliti berbagai hal yang mungkin dan tidak pasti, serta terus mencari dalam kebebasannnya. Karena itu, pada dasarnya filsafat tidak pernah sampai pada sintesis, namun hanya akan membentuk lingkaran pengetahuan yang berpusar pada tesis dan antitesis seiring dengan berdetaknya sejarah waktu.
Terminologi kiri, dalam ruang kesadaran pemikiran kita dewasa ini , dianggap sebagai terminologi  anti kemapanan, bersifat revolusioner, reaksioner, dan kadang menyeramkan. Namun esensi yang menyeruak dalam relung-relung terminologi kiri telah menggugah kesadaran kita bahwa akan selalu ada counterpart yang akan menyeimbangkan hidup kita. Wacana nihilisme, dekonstruksi,  otoritarianisme dan status quo. Dari pertarungan inilah sebenarnya sintesis kesempurnaan terejawantah.
Buku ini menawarkan sebuah tematisasi pemikiran para filsuf yang dicap ‘Kiri’ oleh zaman. Tematisasi ini merupakan langkah yang tepat, seiring dengan parsialitas wacana yang tidak terejawantah dalam satu ikatan rangkaian. Oleh karena itu, buku ini lebih tepatnya telah melakukan rekonstruksi terhadap parsialitas bahasan tentang berbagai epistemologi ke-Kiria-an. Sebuah usaha yang patut diapresiasi/ Dus, siapakah Anda yang mengerutkan dahi? Berkerutlah selagi masih bisa!

Sabtu, 04 April 2015

Ali Moertopo dan Dunia Intelijen Indonesia

Judul : Ali Moertopo dan Dunia Intelijen Indonesia
Penulis : M. Aref Rahmat
Penerbit : Narasi
Tebal : 164 halaman
Kondisi : Segel
Harga : 35.000

Rabu, 14 Mei 2014

Hegemoni Rezim Intelejen

Judul buku: Hegemoni Rezim Intelejen 
Penulis: Busro Muqoddas
Penerbit: Pusham UII. 
Cetakan : 1, 2011
Kondisi: Baru
Tebal: i-xxvi + 472 halaman
 Harga : Rp. 90.000,00

Pemesanan : sms 089666935968/ pin BB: 321BDDAB

sinopsis
 
Kritik mengenai sistem peradilan yang melibatkan analisis peran militer/intelijen tidak banyak. Beberapa tulisan mengenai intelijen adalah Lampung bersimbah darah: menelusuri kejahatan “Negara Intelijen” Orde Baru dalam peristiwa Jama’ah Warsidi (2000) karya Salahudin, Mendorong Akuntabilitas Intelijen (2007) Karya Hadiwinata. Serta Hubungan Intellijen dan Negara (2008) karya Widjadjanto dan Wardhani.
Busyro Muqoddas, melalui Hegemoni Rezim Intelijen; Sisi Gelap Peradilan Kasus Komando Jihad membawa bacaan yang menarik. Ada satu sejarah pemerintahan di Indonesia yang selalu jadi buah bibir hingga sekarang, yakni Orde Baru (1966-1998). Keistimewaan Orba dapat ditinjau dari Tiga kekuatan “pengaman”; Militer, Golongan Karya/Birokrat, dan Konglomerat. Ketiga kekuatan ini juga yang turut membentuk corak otoriter Orba.
Kebutuhan “pengamanan” Orba melahirkan pembenaran-pembenaran tindakan yang jauh dari keadilan. Sistem Orba menolak segala macam perusak dominasi kekuasaan yang sedang dan akan dimainkannya. maka Orba menjaga kestabilan kekuasaan dengan memanfaatkan tiga kekuatan tadi, dan dengan segala variasinya membentuk lingkaran kokoh yang menahan agar Orba tidak sampai anjlok wibawanya dalam perpolitikan Nasional. Dari sinilah disinyalir; Peradilan Sesat, Komando Jihad, dan Intelijen berada.
Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) yang memang diduga telah melakukan penyiksaan dan pembunuhan tahun 1965 adalah alat yang ampuh dari pemerintah Orde Baru. Busyro menuliskan bahwa Kopkamtib dan BAKIN menjadi penyebab munculnya Komando Jihad. Persekongkolan di antara Kopkamtib dan BAKIN terjadi melalui dua fungsi. Kopkamtib menjalankan fungsi penegakan hukum, sedangkan BAKIN menyulut teror dan kekerasan. Motif klasik dari manipulasi ini adalah untuk mempersiapkan kemenangan GOLKAR pada pemilu 1977.
Kestabilan Orba juga dijaga dengan tindakan pembonsaian “Islam Politik” pada 1973 oleh Suharto. Namun, ternyata tidak mampu meredam keinginan masyarakat untuk mendukung partai selain GOLKAR. Bagaimanapun juga, GOLKAR adalah salah-satu dari tiga kekuatan utama yang mendukung Orba untuk bertahan sedemikian lamanya, yakni 1966 hingga 1998. Dua kekuatan lainnya adalah Militer dan Konglomerat.
Buku Hegemoni Rezim Intelijen ini merupakan disertasi Busyro Muqoddas yang membahas bagaimana peradilan sesat berjalan selama ini. “peradilan sesat” mencirikan satu kegiatan yang serba manipulatif. Para terdakwa diperlakukan secara tidak manusiawi didepan hukum. Busyro menampakkan kepada kita satu ulasan tajam dan terbuka mengenai dugaan/rekaan kita tentang praktik peradilan yang selama ini boroknya masih dalam taraf mitos.
Sebastian Pompe, peneliti asal belanda sekaligus penulis buku Runtuhnya Institusi Mahkamah Agung, dalam kata pengantar mengatakan jelas adalah salah tafsir jika menganggap karya ini hanya sebuah tinjauan historis yang tidak memiliki keterkaitan apapun dengan masa sekarang, karena ternyata kajian Busyro masih sangat relevan di masa sekarang terlebih pada bagaimana bentuk-bentuk marginalisasi politik islam. Pompe juga menutup pengantarnya dengan memuji busyro, “buku ini adalah suatu mahakarya”.

Munculnya Elit Modern Indonesia

Judul : Munculnya Elit Modern Indonesia
Penulis: Robert van Niels
Penerbit : Pustaka Jaya
Kondisi : Baru
Stock Kosong
Sinopsis
Munculnya Elit Modern Indonesia memaparkan dan membahas pertumbuhan Indonesia pada masa dua puluh lima tahun pertama abad ini, baik masyarakatnya, akselerasi perubahan sosial, politik dan pembaharuannya, serta makin mantabnya peranan kaum pergerakan menuju cita-cita kemerdekaan.
Pengarangnya menafsirkan, bahwa perubahan pola-pola kepemimpinan di dalam masyarakat pada perempat pertama abad ini membentuk dasar sosial bagi kemerdekaan politik pada tahun-tahun kemudian.

“… garis besar perkembangan elit Indonesia adalah dari yang bersifat tradisional yang berorientasi kosmologis, dan berdasarkan keturunan kepada elit modern yang berorientasi kepada negara kemakmuran, berdasarkan pendidikan “, kata pengarangya lebih lanjut, yang niscaya merupakan bahan pemikiran dan tantangan bagi masyarakat ilmiah kita untuk memberikan perbandingan , uraian dan kesimpulan lebih lanjut.